Matakaro.listberita.id – MEDAN – Perang sarung yang marak terjadi selama bulan Ramadan di wilayah Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, mulai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Warga meminta aparat TNI, Polri, dan unsur Forkopimca segera turun tangan melakukan penertiban untuk mencegah potensi korban akibat aksi tersebut. Sabtu (7/3/2026).
Perang sarung yang dulu dikenal sebagai permainan tradisional sederhana kini mengalami perubahan makna. Jika sebelumnya permainan ini hanya dilakukan sebagai hiburan ringan di lingkungan pondok pesantren atau di sela kegiatan keagamaan, kini praktiknya berubah menjadi aksi yang berpotensi menimbulkan kekerasan.
Sarung yang selama ini identik dengan pakaian ibadah dan simbol budaya masyarakat Indonesia kini justru dimodifikasi menjadi alat untuk menyerang. Dalam sejumlah kejadian, ujung sarung diikat lalu diisi benda keras seperti batu atau potongan besi sehingga berpotensi melukai lawan saat disabetkan.

Di kawasan Jalan Flamboyan Raya Gang Mesjid, tepatnya di kawasan Cerdas, Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan, aksi perang sarung dilaporkan sering terjadi pada malam hari selama bulan Ramadan. Aktivitas tersebut melibatkan sejumlah remaja bahkan anak-anak yang berkumpul dan saling menyerang menggunakan sarung yang telah dimodifikasi.
Warga setempat khawatir jika aksi tersebut tidak segera dihentikan, potensi korban luka bahkan kejadian yang lebih serius dapat terjadi. Pasalnya, fenomena perang sarung di berbagai daerah di Indonesia pernah menimbulkan korban luka hingga kematian.
Seorang warga bernama Uzma mengatakan, hampir setiap malam para remaja berkumpul untuk melakukan perang sarung di kawasan tersebut. Meski hingga saat ini belum ada korban di lingkungan mereka, masyarakat meminta agar tindakan pencegahan segera dilakukan.
“Selama bulan Ramadan hampir setiap malam anak-anak remaja melakukan perang sarung. Banyak anak-anak yang ikut menjadi sasaran. Saat ini memang belum ada korban, tetapi kami berharap segera dicegah agar tidak sampai ada yang terluka,” ujarnya.
Warga juga berharap Polrestabes Medan, Kodim 0201/Medan, serta unsur Forkopimca Medan Tuntungan melakukan razia dan memberikan imbauan kepada para remaja yang terlibat agar tidak mengulangi aktivitas berbahaya tersebut.
Menurut warga, langkah penertiban sebaiknya dilakukan secara humanis dengan pendekatan edukatif. Anak-anak yang terjaring diharapkan tidak langsung diproses secara hukum, melainkan diberikan pembinaan dan pemahaman mengenai bahaya perang sarung.
“Kalau diamankan, kumpulkan saja anak-anak itu. Jangan langsung ditangkapi. Beri mereka nasihat dan imbauan secara baik agar tidak mengulangi lagi,” tambahnya.
Masyarakat berharap aparat dapat mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi potensi tawuran perang sarung di wilayah Medan Tuntungan. Dengan penanganan yang tepat, diharapkan suasana bulan suci Ramadan tetap aman, tertib, dan kondusif bagi seluruh warga.(Red)
Foto: Ilustrasi/Net



